Danau toba jadi taman geopark

516
BERBAGI

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparkraf), terus memantau proses pengusulan kawasan Danau Toba masuk dalam dalam Jaringan Taman Bumi Global Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan internasional (UNESCO) yang telah diusulkan sejak beberapa waktu lalu.

Pemantauan perlu dilakukan, karena menurut Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar, Indonesia sangat diuntungkan jika nantinya Unesco menyetujui usulan tersebut.

Baik itu dari segi penyelamatan lingkungan, maupun dari sektor pariwisata. Karena secara otomatis, minat masyarakat internasional untuk berkunjung akan bertumbuh seiring promosi yang hadir tidak saja dilakukan pemerintah Indonesia, namun dunia internasional.

“Sampai sekarang prosesnya (pengkajian usulan kawasan Toba menjadi Global Geoparks) di UNESCO, masih terus berlangsung. Tapi kita belum tahu kapan akan diresmikan, karena bukan kita yang memutuskannya. Kita hanya dapat memantaunya. Nanti pasti mereka akan memberitahu kepada kita, karena itu milik Indonesia,”

Meski mengaku belum mengetahui kapan dan apakah usulan akan disetujui, Sapta berkeyakinan dalam penilaian dan uji kelayakan yang dilakukan, tim Global Geoparks Network (GGN), tentunya akan memertimbangkan keunikan kawasan Danau Toba.

Karena itu ia berharap masyarakat Indonesia secara luas, dapat berperan aktif terwujudnya keinginan tersebut. Apalagi mengingat manfaat yang diperoleh nantinya sangat besar.

“Kalau usulan disetujui, untuk promosi pariwisata tentunya sangat penting. Karena itu demi mewujudkan hal tersebut kita (Kementerian Pariwisata) akan melakukan langkah-langkah kerjasama misalnya dengan Kementerian Pertambangan, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait lainnya. Kita akan protect (menjaga) daerah itu, karena memang sangat unik,” katanya.

Proteksi katanya, bukan berarti melakukan pembatasan-pembatasan, tapi lebih kepada melakukan konservasi atau pemulihan, agar keasrian tetap terjaga.

“Jadi bukan melakukan pembatasan, tapi lebih kepada konservasi. Artinya kita berusaha merawat sebelum kawasan tersebut menjadi rusak. Ini sangat penting,” katanya.

Langkah tersebut dilakukan apalagi sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mengukuhkan Danau Toba menjadi Taman Nasional Geopark Kaldera Toba, pada 27 Maret 2014 lalu. Selain itu sejak tahun 2007 lalu, kepala-kepala daerah di sekitar kawasan Danau Toba juga telah menyepakati forum kerja sama pembangunan kawasan Danau Toba melalui Lake Toba Management dengan melibatkan 11 kabupaten/kota dari hulu, tengah sampai hilir untuk bekerja bersama-sama menjadi ikon dunia.

Sebelumnya, Bupati Samosir, Sumut, Mangindar Simbolon mengatakan, keberadaan Geopark Kaldera Toba sangat penting bagi kelestarian alam dan masyarakat Samosir.

”Geopark ini penting sebagai fungsi konservasi, untuk melestarikan dan melindungi peninggalan sejarah yang juga merupakan barang langka di dunia. Fungsi edukasi, masyarakat diajarkan untuk mengetahui sejarah terbentuknya bumi Indonesia. Dan ketiga fungsi ekonomi, Geopark ini harus dapat memberdayakan masyarakat lokal untuk ekonomi,” ujarnya.

Namun menurut pria yang pernah menjadi Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara tersebut, tanpa fungsi ekonomi dan fungsi edukasi, maka konservasi tidak akan berjalan. Karena itu harus dilakukan dalam satu kesatuan. Di sinilah pentingnya keberadaan Taman Geopark.(gir/jpnn)