Catut nama mantan kapolri, calo pendaftaran bintara

726
BERBAGI

Surabaya,Sumawa.com
Polisi seharusnya Mengayomi,Melindungi dan Mengamankan.tapi Sayang Polwan yang satu ini telah ingkar janji dengan sumpah dan jabatannya salah satunya oknum anggota Polwan Polda Jatim.karena dari perbuatanya oknum polwan tersebut di dudukan di kursi pesakitan memanh hukum tidak memandang siapa pun yang melanggar hukum baik berpangkat,rakyat kecil atau rakyat kaya pasti akan di hukum.
Sidang Penipuan calon Bintara yang menyeret oknum Polwa Polda Jatim akhirnya di gelar di ruang Sari Pengadilan Negeri Surabaya,sidang kali ini Rabu (2/4/2015). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tining dan Sabetania dari Kejati, menghadirkan enam orang saksi korban, yakni Susan, Karno, Ferian, Gembong, Mujiono dan Wahyu Rokhmadona.bahkan terdakwa AKBP Ernani Rahayu yang bertugas di Biddokkes Polda Jatim saat duduk di kursi pesakitan merasa malu saat wartawan membidik wajah keibuan,
Di depan persidangan saksi korban Susan menjelaskan,kejadian ini tahun 2014 awalnya tidak mengenal Ernani, saya hanya mengenal terdakwa adi wicaksono(berkas terpisah) bahkan dalam perkenalanya Adi Wicaksono menawarkan kalau ada anak yang ingin masuk ingin menjadi Bintara Polri saya (adi w) bisa dengan syarat membayar Rp 300 juta.
Bahkan Adi Wicaksono selaku karyawan PT Pertamina ,mengaku pada Susan kalau saya sudah terbiasa mengawal calon daftar Bintara lolos dari berbagai tes . bahka Adi juga mengaku punya saudara sepupu dengan mantan Kapolri Sutarman,aku saksi di hadapan majelis hakim dengan pandangan yang geram saat melihat terdakwa AKBP Ernani.
Masih menurut Saksi , saya bertemu dirumah Adi di Jalan Semampir Surabaya yang merupakan sindikat penipuan calon bintara. Tertarik dengan penawaran itu, Susanpun selaku korban mendaftarkan keponakannya Feri.Bahkan Edipun untuk mebuat trik agar korbanya percaya kalau Edi adalah saudara sepupu manta Kapolri Sutaman bahkan mengaku kalau belau adalah sepupu mantan jenderal timur Pradopo,

Untuk meyakinkan korbannya , Adi sempat menghubungi seseorang yang disebut sebagai Kapolri Sutarman. Bahkan memberihkan kesempatan korban berbicara dengan orang tersebut.lewat kontak di hpnya edi sempat dikasih agar data anak-anak yang mendaftar dikumpulkan, lewat Polwan Ernani yang akan bantu,” cerita Susana. Anehnya koraban sangat percaya bahkan korban tidak tahu siapa yang di ajak bicara lewat hp nya Edi.
Karena saksi percaya dengan jurus tipu komplotan tersebut akhirnya Korban membayar uang Rp 350 juta , Korban berharap keponakannya lulus karena pernah ikut tes, tapi gugur. Sampai sampai nomor pendaftaran diserahkan. Sampai sampai keponakannya Feri , disuruh tinggal di rumah Adi gratis tidurnya untuk makan feri harus biaya sendiri
Sambil menunggu proses Saat dalam proses Feri berkomunikasi BBM dengan sesama temannya yang sama-sama ikut tes penerimaan bintara dan tidak lolos. Feri menyebut, ada orang yang bisa meloloskan dalam tes susulan. Akhirnya Informasi Feri banyak di minati oleh teman temanya .
Akhirnya teman teman feri datang dengan di antar oleh saksi Susan ,dan menyerahkan uang Rp 650 juta. Semua total pengeluaran uang yang di terima Adi dengan jumlah Rp 1 miliar. Karena ada kurang pembayaran. Para korban disuruh tinggal di rumah Adi.
Selang satu bulan, mereka tidak kunjung diberangkatkan. Sempat saksi Susan menanyakan ke Adi dan djawabnya hanya sabar.jawaban sabar dan harus sabar akhirnya saksi melihat dan mencurigai adanya tidak keberesan ,akhirnya saksi meminta uangnya agar di kembalikan ,tapi sayang Adi menolaknya,karena uang sudah di setorkan kepada terdakwa AKBP Ernani.

Akhirnya Susan mendatangi Ernani yang bertugas di Biddokkes Polda Jatim. Dari hasil pertemuannya terdakwa Ernani menjanjikan akan segera memproses para pendaftar segera lolos. Terdakwa Ernani sempat mengajak Saksi Susan untuk menemui Sri Harnani di Bandara Juanda.
Dalam perkenalannya Sri Harnani mengaku istri seorang polisi berpangkat jenderal di Jakarta. Akhirnya saksi percaya dan memberi uang Rp 5 juta secara tunai, Rp 8 juta melalui transfer agar proses meloloskan bisa lebih cepat.Di tahun 2015 tidak ada kejelasann , akhirnya saksi melaporkan ke Provost Polda Jatim. Laporan itu pun dilanjutkan ke pidana.
Bahkan Saksi juga menerima kuasa untuk melaporkan para korban ke polisi. Terdakwa Ernani awalnya mbulet, tapi akhirnya mengakui membawa uang Rp 2 miliar. Dan dia berjanji akan mengembalikan uang tersebut. Janji tinggal janji tapi tidak ada realisasinya. Karena itulah, perkara ini sampai di pengadilan.tutur saksi Susan di depan majelis hakim
Beda dengan saksi Karno, salah seorang korban mengaku sangat percaya dengan Adi. Kepadanya, Adi menyebut bahwa dia seorang anggota Badan Intelijen Negara (BIN). ”Saya disuruh merahasiakan dan percaya. Yang penting lolos,” ucapnya.
Menurut Terdakwa AKBP Ernani semua keterangan saksi ada yang benar dan ada yang salah oleh terdakwa, didampingi pengacaranya, Sudiman Sidabuke, Yang pasti, saya masih punya hati nurani. Dan saya siap mengembalikan uang-uang mereka semua,” kata terdakwa AKBP Ernani perwira .

Dari hasil perbuatanya terdakwa AKBP di jerat pasal pasal 378 KUHP dan 372 KUHP Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara.(rhy)