KNSR Sumatera Utara Dikukuhkan

576
BERBAGI

Medan, Sumawa.com
Presiden Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya (KNSR) Syuhelmaidi Syukur mengukuhkan KNSR Wilayah Sumatra Utara, Sabtu (23/5/2015).

Pengukuhan KNSR Sumut dengan ketua
Zulham Effendi yang diadakan di Masjid Agung ini diahadiri oleh Preisiden ACT Ahyuddin dan para relawan yang berkomitmen membantu para pengungsi Rohingya.

President Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyuddin menilai, masyarakat Indonesia menyambut baik respon Wakil Presiden Jusuf Kalla yang memastikan Indonesia menjadi negara untuk membantu pengungsi Rohingya.

“Kita memberi apresiasi kepada Indonesia melalui sikap tanggap Wakil Presiden yang ingin membantu pengungsi Rohingya meski sampai 1000 jiwa,” katanya.

Ahyuddin menilai, urusan sebesar Rohingya tidak cukup menjadi tanggung jawab satu lembaga kemanusiaan; bahkan oleh pemerintah setempat.

“Kita harus bahu membahu untuk menegakkan martabat bangsa. Pemerintah telah menunjukkan keseriusannya, sebagaimana akar rumput seperti nelayan dan warga desa-desa pantai di Aceh Utara dan Aceh Timur. Bagi Masyarakat Relawan Indonesia – lembaga yang juga diinisiasi ACT, JK adalah ‘Presiden Kemanusiaan’ Indonesia,” jelasnya.

Ia menjelaskan, memburuknya perlakuan pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya, memaksa rakyat Indonesia bersikap. ‎”Pengukuhan KNSR di Medan dan mencakup wilayah Sumatra Utara ini, bagian dari solusi kemanusiaan,” akunya.

Presiden KNSR, Syuhelmaidi Syukur menilai, Myanmar yang dinilai tidak tersentuh hukum internasional, sukses memperlihatkan performanya sebagai negara pelindung gerakan anti-Muslim.

Ashin Wirathu, biksu Myanmar yang menyuarakan kebenciannya terhadap Muslim Rohingya, tetap segar-bugar di Myanmar tanpa ada kekuatan hukum Myanmar yang menjamahnya meskipun ia sebut Muslim Rohingya sebagai “anjing gila” yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak.

“Ini tak bisa dibiarkan di kawasan cinta damai dan berperikemanusiaan seperti Asia Tenggara. Paling tidak, Indonesia harus bersuara sebagai pelopor Konferensi Asia-Afrika dan pembela hak-hak bangsa tertindas,” ujarnya.

Ia mengaku, nobel perdamaian yang disandang Aung San Suu Kyi, harus dicabut. “Berpuluh tahun Muslim Rohingya dihabisi, dicabut hak kewarganegaraannya dan dicabut hak hidupnya di Myanmar.
Ini tidak masuk akal, sampai menyandang predikat tokoh perdamaian,” jelasnya.

Ketua KNSR Sumut, Zulham Effendi menegaskan, Komite ini merupakan matarantai masyarakat Indonesia yang disadarkan oleh fakta kemanusiaan yang begitu dahsyat.

Bahwa Indonesia sebagai negara berperikemanusiaan dan berperikeadilan ini, mendapatkan amanah besar menolong sesama manusia yang tak punya apa-apa, datang dalam kondisi memprihatinkan, di wilayah Indonesia.

“Tak soal berapa jumlahnya, kami optimistis, rakyat Indonesia mampu menolong sesama. Kita tidak akan jatuh miskin karena menolong sesama manusia,” ungkap Zulham.

Zulham mengaku, KNSR ini dibentuk merupakan lanjutan yang dideklarasikan di Jakarta 19 Mei 2015 lalu. Dengan terbentuknya KNSR Sumatra Utara, bertambah lagi KNSR yang dikukuhkan.
Sebelumnya, sudah dikukuhkan KNSR Kota Langsa (21 Mei 2015), KNSR Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 22 Mei 2019),” akunya

Bersama berbagai elemen masyarakat di Sumatra Utara, kata Zulham, KNSR berikhtiar untuk tidak membiarkan Muslim Rohingya menjadi obyek belas-kasihan siapapun.

“Memanusiakan Muslim Rohingya, menebus kejahatan kemanusiaan atas pembiaran kezaliman atas mereka selama ini. Kita sudah dengar banyak masyarakat Indonesia ingin mengadopsi anak-anak Rohingya,” katanya. (Sw-01)