Komisioner Komnas HAM curiga surat yang merupakan alat provokasi

487
BERBAGI

Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tengah menyelidiki aktor-aktor yang diduga menyebarkan surat edaran dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Surat edaran itu diduga sebagai pemicu kerusuhan di Karubaga, Tolikara, Papua.

Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, mengatakan kerusuhan yang terjadi pada Jumat, 17 Juli 2015, itu didalangi aktor yang sengaja memicu intoleransi dan kekerasan terhadap warga Papua. ”Kami lakukan penyelidikan soal siapa yang mengedarkan surat itu. Kami juga meminta Badan Intelijen Negara menelusurinya, karena konten surat itu memancing reaksi publik dan ketidakharmonisan,” kata Pigai saat dihubungi, Senin, 20 Juli 2015.

Pada 11 Juli 2015, Ketua GIDI Tolikara Pendeta Nayus Wenea dan Sekretaris GIDI Pendeta Marthe Jingga mengeluarkan surat edaran kepada umat Islam di Tolikara. Surat yang juga disampaikan ke Kepolisian Resor Tolikara dan pemerintah daerah setempat tersebut berisi larangan perayaan Idul Fitri di Tolikara. Mereka juga meminta umat Islam tak berjilbab. Pada surat edaran yang sama, Nayus melarang pemeluk agama lain dan denominasi Kristen lain mendirikan tempat ibadah di Tolikara.

Menurut Natalius, surat tersebut tak seharusnya beredar secara luas di media sosial. Musababnya, konten larangan di dalam surat tersebut dinilai provokatif. ”Surat tersebut tidak palsu, tapi isinya keliru,” ujarnya.

Komisioner Komnas HAM yang membidangi permasalahan di Papua itu heran bagaimana surat tersebut bisa beredar di media sosial. Padahal warga Tolikara tidak terhubung dengan koneksi Internet karena lokasi daerah itu berada di pedalaman. Pigai curiga surat itu merupakan alat provokasi salah satu institusi negara yang berkuasa di Papua.

Natalius mengatakan surat edaran itu diunggah pertama kali oleh wartawan lokal di Jayapura. Surat tersebut kemudian diunduh dan disebarluaskan netizen. ”Saya khawatir surat itu dari wartawan lokal yang terafiliasi dengan institusi negara,” kata Natalius.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mencurigai ada aktor intelektual di belakang kejadian ricuh di Tolikara. ”Ada sekelompok orang yang kami identifikasi satu per satu. Semuanya itu sedang kami selidiki. Kalau memang cukup alat bukti yang menguatkan dugaan kami, siapa pun yang bersalah akan kami proses,” katanya di Bandar Udara Sentani, Jayapura. (Sumber : Tempo)