Film Air Mata Fatimah “Bukan Sekadar Tontonan, Tapi Tuntunan”

705
BERBAGI

Medan, Sumawa.com
Film religi berjudul “Air Mata Fatimah” mulai tayang di bioskop seluruh tanah air, termasuk di Kota Medan, Kamis (1/10).

Bahkan, artis pendukung film besutan sutradara Orang Kaya Mahadi dan Bayu Pamungkas Atmadja, seperti Reyhana Alhabsyi (pemeran utama sebagai Fatimah) Annindika Widya (Hamda), Ida Bagus Made Oka Sugawa dan Dwi Andika turut nonton bersama masyarakat Kota Medan menyaksikan film perdana yang diputar di bioskop XXI Centre Point Mall di Jalan Jawa, Kecamatan Medan Timur.

Sutrada dan pemilik cerita, OK Mahadi yang merupakan putra asli Tanjung Pura, Kabupaten Langkat mengatakan, film ini diangkat dari kisah nyata dari cerita neneknya saat ia masih kecil.

“Dulu cerita itu menjadi kerap menjadi pengantar tidur saya yang diceritakan nenek pada tahun 60-an. Cerita ini dibalut sedemikian rupa, tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan sebuah daerah. Kami sengaja mengemas film ini dengan dialog yang menggunakan bahasa Indonesia dan bukan bahasa melayu, sehingga film ini terlihat sebagai film nasional yang mudah difahami,” jelasnya.

Dikatakan OK, film religi ini dipastikan berbeda dengan film religi lain yang selama ini lebih mengedepankan percintaan dan berbalut religi. “Dalam film ini kita lebih mengangkat kepada religi sosial benar- benar mengandung pesan moral bagi penonton,” ujarnya.

Sementara, Bayu Pamungkas yang juga Sutradara sekaligus Produser Pelaksana menambahkan, film berdurasi 90 menit ini dinilai cukup menguras tenaga. Pasalnya, lokasi dalam pembuatan film tersebut sangat terjal dan sulit.

“Pembuatan film ini kita lakukan di kawasan Gunung Parang di Jawa Barat yang tempatnya memang cukup terjal. Film ini kita buat dalam 20 hari dan menghabiskan dana 3 miliar,” ujarnya.

Bayu mengatakan, film ini bercerita bagaimana tentang perjalanan hidup seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) bernama Hamda harus berjuang mencari nafkah untuk menghidupi buah hatinya Fatimah, di tengah cemoohan dan hinaan masyarakat.

Bahkan anak semata wayangnya Fatimah juga kerap mendapat perlakuan serupa oleh masyarakat. Dimana, dikucilkan penduduk kampung akibat profesi sang ibunya yang dianggap hina.

“Anaknya kerap disiksa warga dan terus menerus berurai air mata demi niatnya bisa belajar mengaji di surau kampung. Di tengah kesulitan Fatimah, muncullah sosok Ikhsanudin yang merupakan putra seorang pemuka agama di kampung mereka. Ia dengan tulus dan ikhlas mengajarkan Fatimah mengaji,” katanya.

Diakhir cerita, kata Bayu, Fatimah meninggal dunia di atas Alquran, ketika ia ditantang membaca ayat suci sebagai pembuktian fitnah keji yang dipercayai warga atas diri Fatimah dan Ikhsanuddin.

“Film ini bukan sekadar tontotan, namun juga menjadi tuntutan bagi seluruh umat, karena Allah tidak pernah membeda-bedakan makhluknya. Kita berharap, melalu film ini semua orang bisa memahami makna hidup, dengan tidak menilai seseorang dari pekerjaannya atau menilai sebuah buku dari covernya semata,” pungkasnya. (sw-01)