Dalam Kasus Penganiayaan Keterangan Saksi Bukan Penentu

68
BERBAGI

MEDAN I SUMAWA
Terkait adanya Sejumlah laporan kasus penganiayaan yang belum terproses dengan baik di Polsek-polsek dengan alasan karena tidak adanya saksi membuat Anggota Ombudsman Republik Indonesia angkat bicara.

Anggota Ombudsman Republik Indonesia Prof. Adrianus Meliala, ph.D dalam tanggabannya mengatakan bahwa dalam kasus tindak pidana penganiayaan yang terjadi di masyarakat keterangan saksi bukanlah penentu karena masih ada alat-alat bukti lain seperti keterangan korban, bukti petunjuk, barang bukti dan bukti petunju lainnya, jadi tidak berhenti hanya sebatas keterangan saksi saja, katanya.

Hal tersebut di ungkapkan Prof. Adrianus Meliala ketika melakukan kunjungan kerja ke Polda Sumatera Utara saat di konfirmasi wartawan selasa (28/11/2017) di Medan.

Khairunisa (20) salah seorang warga korban penganiayaan mengeluhkan, di mana sudah lebih tiga bulan kasusnya di laporkan ke Polsek Patumbak dengan No. LP/698/VIII/2017/Polrestabes Medan/Sek.Patumbak, senin 21 Agustus 2017 lalu, namun hingga kini pelaku belum juga di tetapkan sebagai tersangka dengan alasan tidak ada saksi.

AIPTU M. Hutapea selaku penyidik dalam kasus tersebut ketika di konfirmasi wartawan beberapa waktu lalu di kantornya mengatakan, “Belum berani menetapkan pelaku sebagai tersangka karena belum cukup saksi, nanti takut di Praperadilkan” ucapnya.

Praktisi Hukum M. Sihaloho SH ketika di mintai tanggabannya rabu (29/11/2017) terkait kasus penganiayaan Khairunisa mengatakan salah satu bukti petunjuk untuk Polisi dapat menetapkan pelaku sebagai tersangka adalah Polisi harus berani menyita CCTV yang ada di rumah pelaku karena kejadian penganiayaannya terjadi di rumah pelaku, kemudian kedatangan keluarga pelaku berulang kali kerumah korban untuk meminta damai baik melalui Handphone mau pun Via SMS, itu semua bukti petunjuk yang dapat membantu penyidik dalam menetapkan status tersangka buat pelaku, katanya.

“Jadi tidak berhenti hanya sebatas keterangan saksi saja, penyidik juga harus cerdas dan mempertimbangkan hak Hukum korban untuk mendapatkan keadilan Hukum, jangan nanti ada persepsi di masyarakat seolah-olah Polisi sengaja mengendapkan kasus ini” tuturnya.

Berikut isi SMS kakak pelaku melalui Wa kepada Kuasa Korban:

[4/10 09:12] Kakak Ade: Pagi bang..
[4/10 09:13] Kakak Ade: Sy asiah bg adeknya dr ade temanya nisa
[4/10 09:14] Kakak Ade: Td malam sy ktemu nisa bg, udah ngobrol2, jd kami berdua berembuk untuk damai ni bg
[4/10 09:14] Kakak Ade: Semalam nisa bilang konfirmasi ke abg dulu ni
[4/10 09:14] Kakak Ade: Gimna bg, selanjutnya critanya, karena kita mau damai ni
[4/10 09:15] Kakak Ade: Apa bgusnya kita ketemu bg, dimana gtu ngobrol.