Semua Elemen Bangsa Siap Mendukung Polri Memberantas Teroris

33
BERBAGI

Jakarta – Sumawa
Saat ini para simpatisan kelompok atau pelaku tindak terorisme bisa dipidana, Kewenangan itu telah diberikan kepada pihak kepolisian lewat revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Hal tersebut di ungkapkan Kapolri Tito Karnavian senin (16/7/2018) kemaren di Jakarta.

Menurut Tito undang-undang baru, UU Nomor 5 Tahun 2017, yang bersimpati kepada mereka (teroris) saat melakukan aksi itu, bagian dari kelompok, mereka itu bisa kami pidana.

Saya telah memerintahkan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengungkap pihak-pihak yang terkait serangan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur pada Mei 2018 silam, ucapnya.

Semua pihak mulai dari ideolog, inspirator, pelaku, pendukung, pemberi anggaran, yang menyembunyikan terduga teroris, perakit bom hingga simpatisan harus ditangkap.

Hasil revisi beleid pemberantasan terorisme memberikan ruang bagi Polri untuk memeriksa para anggota jaringan terorisme sebelum melakukan aksinya, kata Tito.

Kewenangan itu telah digunakan untuk memproses sekitar 50 orang yang ditangkap di dua kawasan di Bendungan Hilir dan Kemayoran, Jakarta Pusat, karena diduga terkait jaringan teroris tertentu.

Densus 88 telah menangkap sekitar 200 terduga teroris pascainsiden serangan bom bunuh diri di tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur pada pertengahan Mei 2018 silam.

Polri tidak berhenti melakukan perburuan dan penangkapan terduga teroris. Polri akan melakukan operasi secara diam-diam untuk menunjukkan kekuatan Indonesia dalam melawan terorisme, ucap Kapolri. (Ss).