Penembakan Terhadap Wanda Bertentangan Dengan KUHAP

68
BERBAGI

Medan – Sumawa
Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Provinsi Sumatera Utara Amin Multazam mengatakan dugaan Praktek Kekerasan dan Penyiksaan Terhadap Wanda Gunawan Pasaribu yang di lakukan Polsek Medan Timur Wajib di usut tuntas.

Dimana Prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia wajib ditegakkan, karena seorang tersangka mempunyai hak untuk meminta surat tugas kepada aparat ketika hendak menangkap dan menahan si tersangka (pasal 18 ayat 1 KUHAP).

Demikian di sampaikan Koordinator Kontras Amin Multazam pada wartawan, kamis (19/7/2018) di Medan.

Multazam mengungkapkan bahwa Pola-pola penegakan hukum sebagaimana demikian harusnya tidak lagi kita temukan ditengah janji manis Kapolri bahwa kepolisian menuju arah professional, modren dan terpercaya (PROMOTER).

Atas dasar itu kami dalam beberapa hari belakangan telah mencoba mengumpulkan alat bukti, menyusun kronologis, serta menemui beberapa orang saksi untuk dimintai keterangan dan informasinya, dan dari proses tersebut, diketahui bahwa Wanda saat ditangkap tanpa surat penangkapan dan penahanan, katanya.

Wanda yang ketika itu baru pulang dari bengkel tempatnya bekerja, lantas dibujuk “ikut” kedalam mobil oleh salah seorang personel polisi berpakaian biasa.

Selama lebih seminggu berada dalam tahanan, keluarga tidak dapat bertatap muka untuk melihat langsung kondisi Wanda. Komunikasi justru dilakukan melalui perantara telpon.

Namun anehnya, pihak keluarga korban justru diminta tetap membawakan obat-obatan untuk penyembuhan luka di kaki wanda yang kena luka tembak. Dan Surat Penangkapan SP.Kap/242/VII/2018 tertanggal 10 Juli 2018 dan Surat Perintah Penahanan Nomor: SP.Han/ 29/VII/2018 justru baru diserahkan pada keluarga tertanggal 13 Oktober 2018.

Praktek-praktek demikian tentu saja bertentangan dengan KUHAP yang dengan tegas mengatur hak-hak tersangka.

Sekalipun Wanda merupakan pelaku kejahatan sebagaimana yang dituduhkan, ia harus tetap diperlakukan secara manusiawi sesuai dengan mekanisme dan prosedur yang berlaku. Ujar Multazam

Jika aparat penegak hukum yang bersangkutan tidak memperlihatkan surat tugasnya atau tidak memiliki surat tugas maka penangkapan itu tidak sah, dan bisa dimohonkan praperadilan, dan konsekuensinya tersangka akan dibebaskan disertai dengan pemberian ganti rugi (Pasal 77 KUHAP).

dalam peristiwa ini adalah persoalan dugaan kekerasan dan penyiksaan yang dialami wanda. Dimana dalam keterangan pers nya, polisi beralasan bahwa wanda ditembak karena berusaha  melawan petugas dan melarikan diri. Namun hal ini rasanya patut dievaluasi, diselidiki dan di investigasi secara lebih dalam, ucapnya.

Karena menurut para saksi yang di temui, pada saat penangkapan berlangsung dengan baik-baik saja dan tanpa ada perlawanan dari Wanda, lagi pula pada saat itu  jumlah personil polisi yag menangkap Wanda ada empat orang dan berbadan lebih besar dari Wanda, logikanya sulit kemungkinan bagi Wanda untuk bisa melawan, apalagi berusaha melarikan diri.

Untuk itu KontraS mendesak Polda Sumatera Utara untuk segera mengevaluasi kinerja jajaran Polsek Medan Timur secara internal, dan mendorong lembaga Negara lainnya seperti Kompolnas, Komnasham, LPSK maupun Komisi A DPRD Sumatera Utara secara eksternal untuk bersama-sama melakukan evaluasi dan penyelidikan lebih jauh atas peristiwa ini, tuturnya.

Bahwa mengintrogasi dengan cara-cara kekerasan dan penyiksaan sering kali dijadikan sebagai sarana untuk mengejar pengakuan terduga pelaku, yang akhirnya justru bermuara pada rekayasa kasus.

Kita tentu tidak menginginkan hal itu terjadi.

Persoalan yang dialami Wanda Gunawan Pasaribu bukanlah hal baru dalam cerita penegakan hukum di Indonesia terkhususnya di Sumatera Utara.

Motif penegakan hukum masih kerap dilakukan dengan cara-cara yang justru bertentangan dengan hukum.

Untuk itu, KontraS bersama keluarga koban telah melaporkan peristiwa ini ke Polda Sumatra Utara (STTLP/803/VII/2018), pada Kamis 19 Juli 2018.

Kita berharap proses penyelidikan dan penyidikan atas kasus ini berjalan secara objektif dan transparan. Bukan hanya untuk memberikan rasa keadilan bagi wanda dan keluarga, namun lebih dari itu sebagai ikhtiar bersama dalam mendorong kepolisan untuk bekerja lebih professional, Modern dan terpercaya.

Pengungkapan secara tuntas kasus ini bisa jadi bukti, apakah kepolisian sudah berbenah atau justru masih senang dengan menumpahkan darah dan air mata, tegas Kontras.(Ss).