Beranda Peristiwa Agama

Gaji Diintervensi Yayasan, Dosen STT Abdi Sabda Sudah Seminggu Mogok Mengajar *Javansen Sinaga : Tiga Kali Diperingat Tidak Mengajar, Tinggal Pengembalian Dosen ke Gereja

74
SAMBUTAN: Ketua STT Abdi Sabda, Pdt Dr Jon Riahman Sipayung, didampingi mantan ketua STT, para dosen dan alumni menyampaikan sambutan pada aksi keprihatinan para dosen, mahasiswa, BEM dan alumni, terhadap pengurus yayasan, Kamis (10/10) di kampus STT Abdi Sabda, Jalan Medan-Binjai Km 10,8.

Medan-Sumawa

Seluruh dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Abdi Sabda mogok mengajar sejak, Senin (7/10) rencananya akan berlanjut sampai Senin (21/10). Aksi tidak mengajar tersebut dilakukan karena pihak yayasan STT HKBP sudah mengintervensi gaji para dosen. Bahkan hak-hak dosen dan mahasiswa ada yang dipangkas padahal ditetapkan dalam anggaran keuangan tahun 2019 dan disetujui pembina STT.

Aksi mogok mengajar dosen tersebut dibenarkan Ketua STT Abdi Sabda Pdt Dr Jon Riahman Sipayung kepada wartawan, Kamis (10/10) di kampus STT Abdi Sabda, Jalan Medan-Binjai Km 10,8. Saat itu, STT ini menggelar aksi keprihatinan bersama mahasiswa dan para alumni yang datang dari berbagai daerah.

Pada aksi keprihatinan tersebut, semua elemen berbicara, baik alumni, dosen, BEM, Ketua STT, bahkan mantan Ketua STT Abdi Sabda. Semuanya sepakat dan menyerukan agar Majelis Dewan Pembina STT Abdi Sabda (Pimpinan Gereja GBKP, GKPS, BNKP, GKPI, HKI, GKI-Sumut dan GKPA) secepatnya mengganti pengurus Yayasan Abdi Sabda periode 2018-2023 yang diketuai Javansen Sinaga dan Seketaris Marthin Luther Harahap.

Tampak hadir mantan Ketua STT Pdt Dr Berlian Saragih, mantan Ketua Moderamen GBKP yang juga dosen pengajar di STT Abdi Sabda Pdt Dr Erick Barus, Pdt Dr Jaharianson Saragih (mantan Ketua STT Abdi Sabda/mantan Ephorus GKPS, mewakili alumni Pdt Antoni Tondang, mewakili BEM Frengki Parlan Suryadi.

Menurut mereka yang berorasi, beberapa persoalan terjadi sejak yayasan dipimpin Javansen Sinaga, padahal di kepengurusan yayasan beberapa periode sebelumnya persoalan seperti ini tidak pernah terjadi. Terlebih lagi, dalam penyusunan Statuta Abdi Sabda tidak melibatkan unsur pimpinan STT dan Senat STT Abdi Sabda sesuai dengan Permenristekdikti No. 16 Tahun 2018 tentang pedoman tata cara penyusunan statuta perguruan tinggi swasta.

Mogok dosen dilakukan menurut Ketua STT untuk menjaga keutuhan terlaksananya program-program dengan baik. Dengan aksi ini, pihak STT mengharapkan pihak pembina memperhatikan dan mendengar keluhan para dosen dan mahasiswa. Karena kebijakan yayasan yang mengintervensi gaji dianggapnya sudah menurunkan nafkah dan kebutuhan para dosen.

Sehingga, lanjut dia, tindakan yayasan secara tidak langsung berdampak psikologis dalam kegiatan belajar-mengajar. Seharusnya yayasan mengacu pada regulasi yang sudah ditetapkan pembina. Karena anggaran keuangan tersebut meski awalnya diusulkan oleh STT, tapi ada koreksi dari yayasan, kemudian diajukan ke pembina dan disetujui untuk dilaksanakan. Sehingga setelah ditetapkan, pihak yayasan tidak boleh lagi mengintervensinya. Apa yang sudah disepakati dan ditetapkan harus dilaksanakan.

Terkait mogok ngajar para dosen, lanjut Jon Riahman, meski itu kesepakatan dosen yang dituangkan dalam rapat tapi pihaknya bukan mengorbankan mahasiswa. Setelah tanggal mogok usai, jam belajar akibat mogok dosen akan diganti. “Selama dua minggu dosen mogok mengajar, akan digantikan oleh dosennya, sehingga tidak ada mata kuliah yang terbengkalai,” tuturnya.

Ketua Yayasan STT Abdi Sabda Javansen Sinaga yang dihubungi wartawan, Minggu (13/10) membantah tidak pernah mengganggu gugat gaji dosen, justru menambah. Apa yang sudah ditetapkan dalam anggaran keuangan yang disahkan pembina tidak pernah diganggu gugatnya. Apalagi, menurut Javansen, gaji dosen Abdi Sabda tergolong besar, sudah ikut di dalamnya tunjangan keluarga, sehingga tidak perlu ada yang diributkan.

Tentang adanya mogok dosen javansen mengatakan bahwa itu adalah illegal, karena yang sah adalah mogok ngajar harus ada persetujuan kementerian tenaga kerja atau yayasan, bukan izin dari Ketua STT. Terkait para dosen akan mogok sampai tanggal 21 Oktober, Javansen mengemukakan bahwa yayasan sudah melayangkan surat teguran pertama dan kedua kepada para dosen.

“Kalau sampai surat ketiga kami layangkan tidak digubris, tinggal kami mengusulkan kepada pembina agar mereka dikembalikan ke gereja masing-masing. Kalau di perguruan tinggi lain, mereka sudah dipecat, tapi karena ini adalah STT dan dosen-dosennya adalah utusan gereja, maka kami usulkan mereka dikembalikan saja kalau masih mogok mengajar,”tegasnya.(P.H)