Beranda Peristiwa Agama

Gubernur Sumut Bersama Ribuan Umat Islam Kota Medan Solat Idul Adha Nabi Ibrahim Telah Lulus Ujian Yang Diberikan Allah Dengan Nilai Tertinggi dan Judicium Luar Biasa

50
SOLAT IDUL ADHA: Dr HM Syukri Albani Nasution MA, Sekum MUI Kota Medan menyampaikan khutbah ketika menjadi Khatib pada Solat Idul Adha 1440H/2019M, Minggu (11/8) di Lapangan Merdeka Medan. (Foto SIB/ Horas Pasaribu)

Medan (SIB)- Sumawa

Gubernur Sumatera Utara H Edy Rahmayadi, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, Wakil Wali Kota Akhyar Nasution berserta jajarannya bersama ribuan umat Islam Kota Medan melaksanakan Solat Idul Adha 1440 H/2019M di lapangan Merdeka Medan, Minggu (11/8). Solat Idul Adha dipimpin Imam Fikri Munawwar SP (Qori Sumut) dan Khatib Dr HM Syukri Albani Nasution MA (Sekum MUI Kota Medan).

Tema Idul Adha: Upgrade peran kehidupan manusia modern. Dalam khotbahnya, HM Syukri Nasution mengatakan, banyak hikmah yang didapat dari perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim AS beserta putranya Nabi Ismail AS. Antara lain, adanya perintah menyembelih hewan kurban kepada orang-orang mukmin yang ekonominya mampu.

“Anjuran berkurban sebagai wujud kepatuhan dan keihkalasn sebagaimana yang dicontohkan nabi Ibrahim sekaligus menyatakan bahwa ibadah kurban ini sarat dengan nilai-nilai kesetiakawanan sosial,” kata HM Syukri Albani.

Menurut dia, ada yang menarik untuk dijadikan pelajaran berharga yaitu terciptanya komunikasi/ antara nabi Ibrahim dan putranya Ismail sesaat sebelum Ibrahim melaksanakan perintah allah. Dialog itu menanamkan nilai-nilai edukasi, musyawarah, nilaikepatuhan, ketaatan kepada Allah. Selain itu, komunikasi yang dibangun Ibrahim kepada anaknya menggambarkan betapa harmonisnya antara orangtua dengan anak atau sebaliknya, inilah potret keluarga Islami.

“Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari idul Adha antara lain, setiap umat Islam dituntut mengedepankan dialog yang dibungkus nilai-nilai Ukhuwah Islamiyah. Ibrahim telah membuktikan betapa pentingnya suatu dialog atau musyawarah sebelum mengambil keputusan. Jika ditarik dalam konteks kekinian, kita dituntut untuk membentuk keluarga memiliki aqidah ddan kadar keimanan yang kuat dan tangguh,” terangnya.

Lanjut dia, kalau hanya menyerahkan jiwa raga buat sekaliber Nabi Ibrahim, bukanlah masalah besar. Tapi ujian itu datang melalui pintu kesenangan, berupa penyerahan putra tercinta untuk disembelih dengan tangan sendiri. Demikian juga ujian kesabaran dalam doa untuk mendapatkan seorang anak.

“Banyak cara Allah menguji ketaatan dan kesabaran seorang hamba, ada melalui kesenanganm ada melalui penderitaan dan kesengsaraan. Orang kaya dan pejabat negara akan diuji dengan kekayaan dan jabatannya. Orang miskin juga akan diuji atas penderitaannya. Semua makhluk ciptaan Allah akan mengalami ujian dan cobaanm sesuai tingkat dan kemampuan masing-masing,” tuturnya.

Lanjut dia, Nabi Ibrahim telah lulus pada ujian yang diberikan Allah SWT. Beliau mendapat nilai tertinggi dengan judicium luar biasa. “Kalau dikaitkan dengan kehidupan, apakah kita bisa lulus dalam setiap tahap ujian dan cobaan dari Allah. Padahal jenis dan materi ujiannya tidak sesulit apa yang diberikan kepada nabi Ibrahim,” ungkapnya.

Untuk itu, kata HM Syukri, yang terpenting adalah memperkokoh ukuwah Islamiyah dalam menyikapi perbedaan. Jangan hanya kuat dan kompak dalam gerakan-gerakan solat, tapi lemah di tengah-tengahmasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“terus terang, solidaritas umat Islam sekarang ini kian rapuh, ibarat buih di tengah lautan, mudah hancur dihempas ombak ke tengah karang. Marilah kita hidupkan gairah ke-islaman kita dengan menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini,” tuturnya. (M10) (P.H)