Beranda Daerah

Terkait Keluhan Pelancong Samosir Soal Mahalnya Kuliner KMTD Minta Pemda se Kawasan Danau Toba Kordinir Harga Makanan Lewat Dinas Terkait * Prof Gimbal Doloksaribu: Untuk Kemajuan Suatu Daerah, Harus Menjadi orang Baik dan Jujur

57
Edison Manurung

Medan,Sumawa.Com

Minat warga Sumatera Utara untuk berwisata semakin tinggi, terutama pada liburan natal 2019 dan tahun baru 2020. Hunian, baik itu hotel maupun guess house penuh, khususnya di kawasan Danau Toba Pulau Samosir. Meski terjadi antrian panjang di pelabuhan Ajibata dan Tigaras untuk penyeberangan kapal ferry tapi tidak menyurutkan semangat pelancong menikmati keindahan Danau Toba sambil merayakan malam pergantian tahun.

Presiden Joko Widodo sudah memberi perhatian penuh untuk kawasan Danau Toba dan dibentuklah Badan Otoritas Danau Toba (BODT). Perhatian tersebut disambut suka cita masyarakat Sumut yang diapresiasi lewat ramainya orang berwisata di kawasan Danau Toba, terutama di akhir pecan dan libur nasional.

Tapi liburan akhir tahun ini seperti dinodai oleh warga penduduk setempat di Samosir yang mencari keuntungan dalam menetapkan harga makanan dan transportasi tanpa memperhatikan kelanggengan usaha dan niat orang berkunjung sekali lagi. Oleh sikap masyarakat yang tidak sadar wisata, membuat pribadi-pribadi perjalanan ke Samosir jadi “parsahalian” dan “panjoraan” (cukup sekali dan jera).

Seperti kejadian yang viral di media sosial, kejadiannya di Tuktuk, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir dimana satu keluarga yang makan di salah satu restoran membayar makanan yang mereka pesan Rp 1.613.000, dimana harga ikan bakar Rp 85.000, air mineral botol kecil Rp 10.000. Sedangkan di restoran lain, untuk makan saja harus memesan meja Rp 30.000 belum makanan. Keluhan lain yang viral di medsos, pelancong asal Medan, mau naik betor dari Tomok ke Lontung (sekitar 8 kilometer) Rp 150.000, ketika ditanya kenapa begitu mahal, justru penarik betornya yang marah-marah.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum DPP Komite masyarakat Danau Toba (KMDT) Edison Manurung kepada wartawan, Minggu (5/1) mengatakan, pihaknya akan turun ke kawasan Danau Toba untuk mengedukasi masyarakat. Untuk itu, kata dia, KMDT akan dibentuk di seluruh kabupaten se kawasan Danau Toba, karena keberadaan organisasi ini juga untuk menjembatani kepentingan masyarakat kepada pemerintah setempat.

Lanjut dia, para wisatawan sangat cinta ke bona pasogit dan Danau Toba, dari tahun ke tahun semakin berkembang. Semua yang terjadi adalah dinamika perkembangan dengana lajunya kunjungan dari segala penjuru anak rantau. Sehingga kehadiran wisatawan berdampak positif bagi peredaran ekonomi rakyat.

“Untuk itu, soal harga-harga kuliner, para pemda se kawasan Danau Toba perlu mengkordinir harga-harga makanan melalui dinas-dinas terkait. Bila perlu dibuat asosiasi pemda untuk mengontrol harga-harga demi perbaikan bersama,” terang Edison Manurung.

Sementara itu, Dewan pakar KMDT Prof Gimbal Doloksaribu mengatakan, semua orang harus mau berubah dan belajar untuk merubah sikap/karakter yang kurang baik menjadi baik. Berusaha menjadi orang jujur, karena dengan modal kejujuran suatu daerah maupun negara bisa menjadi makmur. Salah satu sarana yang bis amerubah ini menurut dia adalah para pendeta saat berkhotbah di altar.

“Berilah pengetahuan, nasehat dan masukan-masukan yang baik kepada jemaat disamping isi khotbah kerohanian. Kepala-kepala desa dan bupati juga harus berperan memberikan pencerahan dan contoh menjadi warga yang baik dalam segala hal kepada masyarakat dalam usaha menghadapi era globalisasi yang berkembang cepat. Apalagi kalau Danau Toba dan sekitarnya akan dijadikan kawasan wisata internasional, tentunya masyarakat harus siap untuk ini. Kita harus bisa menjadi garam dan terang dunia,”ucapnya.(P.H)

Medan, 5 Januari 2020