Beranda Daerah

Wali Kota Baru Harus Bisa Mengejar Ketertinggalan Medan Dari Bandung dan Surabaya

59
Parlaungan-Simangunsong

Medan-Sumawa.Com

Pilkada Wali Kota Medan memang masih tahun depan, tapi sudah ramai dibahas orang. Siapa sosok calon yang bakal majupun juga sudah direka-reka kalangan masyarakat. Bukan semata ingin cepat pemilihan umum lagi, tapi rindu pemimpin yang bisa memajukan Kota Medan.

Seketaris Fraksi P Demokrat DPRD Medan Parlaungan Simangunsong mengakui, perbincangan Pilkada di Medan sudah mengimbangi popularitas Pilpres. Tidak ada unsur politik dari perbincangan masyarakat tapi lebih dominan menantikan siapa yang mampu memperbaiki Kota Medan.

Pasalnya, kata Parlaungan, 13 tahun Medan tertinggal dari kota-kota besar di Indonesia. Terakhir Medan menjadi pamor di Indonesia ketika dipimpin Abdillah lewat kota gemerlap di malam hari dan membangun di tiap kecamatan.

Namun pasca Abdillah dan wakilnya Ramli terkena kasus hukum di awal periode keduanya, program pembangunan tidak maksimal karena dipimpin yang bukan defenitif. Begitu juga di masa Rahudman-Dzulmi Eldin, pembangunan juga terganggu ketika Rahudman kena kasus hukum dan digantikan Eldin.

“Pemimpin yang baru nanti harus bisa mensejajarkan Medan dengan Bandung dan Surabaya dari segi kemajuan kota dan kesejahteraan rakyatnya. Orang Medan banyak yang sudah pergi di dua kota itu dan membandingkan betapa jauhnya kota kita ini tertinggal. Bahkan juga dibanding Bali, Yogyakarta, Padang, Makassar, Ujung Pandang dan Batam juga tertinggal. Bahkan “geliat” ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai dan infrastruktur di Humbang Hasundutan lebih maju dibandingkan Medan. Masyarakat tidak bisa lagi dibohongi”, kata Parlaungan kepada wartawan, Jumat (14/6).

Dia (Parlaungan) tidak mempersoalkan siapa nanti yang memimpin Medan, apakah Dzulmi Eldin atau Akhyar sebagai petahana nanti memenangi Pilkada nanti atau wajah baru. Tapi baginya, pemimpin harus berani membuat gebrakan pembangunan asalkan Medan itu bisa maju. Wali Kota harus bisa merekrut pejabatnya yang benar-benar punya visi membangun tepat sasaran apapun agamanya. Jangan seperti selama ini dilakukan lelang jabatan, seleksi oleh perguruan tinggi, tapi yang lolos adalah semua pejabat lama, hanya jabatannya berubah.

“Bukan Eldin yang tidak mampu, tapi jajarannya tidak bisa menjalankan program pembangunan Medan Rumah Kita. Bila perlu “impor” pejabat dari Jakarta, Bandung, Bali atau dari Kementerian, apapun agama dan sukunya. Yang penting Medan ini berkembang. Jangan alergi terhadap investor, buka pintu selebar-lebarnya untuk berinvestasi agar pengangguran berkurang. Lihat Kota Medan jalannya berlubang-lubang, jadi langganan banjir, terkenal jorok. Belum lagi, empat tahun bertutut-turut Medan tidak pernah lagi dapat piala Adipura dan predikat laporan keuangan oleh BPK masih wajar dengan pengecualian (WDP), ini sangat memprihatinkan. Kita harapkan bisa berubah di periode wali kota yang baru tahun 2020 nanti,” tuturnya. (P.H)